Kapal Jepang Ship Wreck karam di Teluk Tahuna sudah 71 tahun lamanya. Informasi yang diperoleh dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Kabupaten Sangihe Achy Masuneneng, Japanis Ship Wreck merupakan kapal Jepang yang dipakai untuk logistik makanan. “Berdasarkan cerita para tua-tua, kapal tersebut dibom oleh sekutu dari atas pesawat pada tahun 1946 ketika hendak bertolak dari Teluk Tahuna,” jelasnya.

Lanjut, konon kapal ini sempat menjadi misteri, dikarenakan tidak tersedianya fasilitas penunjang pada saat itu, untuk mendokumentasikan keberadaan kapal. “Namun setelah berpuluh tahun lamanya, misteri Kapal Jepang yang selama ini hanya bisa didengar lewat cerita mulut ke mulut oleh warga Sangihe dan hanya bisa dilihat ketika air surut, itupun hanya samar-samar akhirnya terungkap,” ujarnya.

Diungkapkan Achy, untuk mengetahui informasi dari kapal tersebut, dia pun melakukan diving di lokasi kapal yang ada di kedalaman 27 meter (m) ini. “Ternyata kapal tersebut, memiliki panjang kurang lebih 25 m dan lebar 15 m. Hampir seluruh bagian badan kapal ditumbuhi terumbu karang,” cerita PNS muda yang juga seorang diver dan juga fotografer ini.

Dijelaskannya, kapal dengan posisi menukik. Haluan kapal menghadap ke Selatan dan banyak biota laut yang menjadi penghuni kapal tua ini. “Sayapun langsung mengambil gambar kapal Japanis Ship Wreck. Sehingga menarik perhatian para diver,” katanya.

Menurut dia, posisi Japanis Ship Wreck sangat dekat, hanya 30 m saja dari bibir pantai.  Sehingga spot ini membludak akan aktivitas diving. Pantauan harian ini, mulai dari wisatawan mancanegara sampai ke wisatawan nusantara, ketika hari libur, lokasi yang berdekatan dengan Pelabuhan Apung Kota Tahuna ini banyak dikunjungi.

Kepala Disbupar Jefry Tilaar SE ME mengungkapkan, keberadaan kapal karam ini sangat baik untuk promosi pariwisata. “Wisata bawah laut ini sangat menarik apalagi mengandung nilai sejarah, sehingga ekosistem yang ada harus tetap terjaga,” jelasnya.

Tilaar berharap, pengunjung spot diving, jangan mengambil apapun yang ada di dalam kapal. Tidak menginjak atau merusak karang yang tumbuh dibagian kapal. Jangan ada aktivitas foto yang berlebihan sehingga kadang membuat penyelam harus memegang atau menginjak karang.

“Mengingat bagian kapal sudah sangat tua, maka diharapkan untuk berhati-hati ketika melakukan diving. Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sehingga nanti kapal ini akan tetap menjadi spot diving andalan di Sangihe,” tutup Tilaar.