4.jpg

Untuk mendalami kebudayaan sangihe, sebaiknya memahami sastra lisan sangihe, sastra lisan sangihe adalah salah satu bukti peninggalan kebudayaan sangihe masa lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Dari beberapa sastera lisan sangihe yang paling melegenda adalah cerita Gumansalangi. Dari cerita tersebut kita dapat melihat keberadaan sangihe dari penduduk mula-mula sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan yang menjadi dasar terbentuknya sebuah suku yang dinamakan suku sangihe. Kisah Gumansalangi sebagai penduduk mula-mula tergambar secara utuh dalam “Tamo” karena tamo telah menjiwai kelahiran sangiang konda sebagai ibu dari orang-orang sangihe. Cerita Gumansalangi dan pembentukan kerajaan sudah ditulis banyak orang meskipun hanya dalam tulisan-tulisan lepas, bukan dalam sebuah buku yang sangat lengkap.

Ada banyak tulisan yang dilengkapi dengan tahun kejadian, tetapi belum bisa diakui karena semua cerita tentang Gumansalangi, tidak pernah dibukukan dimasa lalu sehingga terjadi kesimpangsiuran. Mungkin cerita lengkap tentang Sangihe boleh ditelusuri di Belanda untuk mandapatkan kepastian yang lebih ilmiah dan dapat diakui oleh publik yang lebih luas.

Seperti pepatah mengatakan “tak ada rotan akarpun jadi”. Kita sebagai generasi baru tidak bisa lagi menunggu “pemerintah” untuk mendanai penelitian dan penulisan tentang sejarah dan kebudayaan sangihe secara komprehensip. Karena lebih banyak orang sangihe “ndak” mau peduli, dari pada yang terpanggil untuk berbuat menggali kekayaan budaya.

Tokoh Gumansalangi sudah diceritakan berabad-abad lamanya di kepulauan sangihe melalui cerita lisan dari generasi kegenerasi secara turun-temurun. Sejak masuknya bangsa Eropa, cerita Gumansalangi mulai ditulis oleh para budayawan, sejarahwan dan pemerhati sejarah dan kebudayaan sangihe lainnya dalam bentuk tulisan-tulisan lepas.

Cerita Gumansalangi pertama kali diterjemahkan Desember 1993 di Biola University – Los Angles. Kisah Gumansalangi terbaru ditulis oleh Kenneth R. Maryott, seorang berkebangsaan Amerika yang bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di Philliphin dalam buku yang berjudul “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “. Buku tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sangihe,bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, diterbitkan oleh “ The Committee For The Promotion Of The Sangir Language, Davao – Phillphiness, 1995. Kenneth bertindak sebagai editor, berdasarkan penuturan dari Bapak Haremson E. Juda. Disamping itu terdapat juga cerita tentang Makaampo. Cerita Makaampo pertama kali ditulis dan dipublikasikan dengan judul “Bĕkeng Makaampo (The Story of Makaampo)” dari artikel journal “Majalah Bijdragen tot de taal,- Land – en Volkendkunde, Volume 113 (1957)

Cerita Gumansalangi berasal dari kepulauan Sangihe Talaud, yang diceritakan sebagai folklore atau cerita rakyat. (Folklore adalah unsure kebudayaan dari masa silam yang menuju ke ambang kepunahan). Banyak cerita yang berkembang di kepuluan sangihe tentang Gumansalangi tetapi intinya berkisah tentang penduduk sangihe pertama. Permasalahannya adalah Siapa dan dari mana asal Gumansalangi yang sebenar – benarnya. Sampai kapanpun tidak akan mungkin ditemukan kebenaran secarah ilmiah siapa Gumansalangi. Penyebabnya adalah belum ditemukan bukti melalui naskah kuno atau prasasti yang menulis atau memberikan gambaran tentang kehidupan Gumansalangi. Hal ini terjadi juga pada beberapa folklore lain disulawesi utara seperti cerita Toar dan Lumimuut dari Minahasa, cerita Gumalangi dan isterinya Tendeduata penghuni pertama Bolaang Mongondow, cerita seperti ini tetap menjadi legenda.

Kenapa cerita Gumansalangi memiliki banyak bentuk,dari alur cerita maupun kesesuaiannya dengan sejarah Sangihe. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu : Cerita Gumansalangi merupakan sastera lisan, yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut, keadaan ini memungkinkan terjadinya berbagai perubahan. Perubahan dapat terjadi berdasarkan siapa yang pertama mengisahkan, siapa yang mendengarkan, kepada siapa kisah itu diturunkan dan dilingkungan apa cerita itu dikembangkan.

Berdasarkan beberapa cerita yang berkembang dimasyarakat sangihe terdapat beberapa cerita berdasarkan tempat dimana cerita itu berkembang diantaranya ; Cerita Gumansalangi versi Siau, Cerita Gumansalangi versi Talaud, Cerita Gumansalangi versi pulau Sangihe besar. Dikalangan orang sangihe sendiri terdapat beberapa bentuk, seperti versi cerita Gumansalangi dari orang-orang yang ada di bekas kerajaan Tabukan dan diluar kerajaan Tabukan. Diantara beberapa versi tersebut dapat dipaparkan beberapa versi yang memiliki perbedaan.

a. Versi pertama (versi siau)
Gumansalangi adalah kulano pertama di Pulau Sangihe besar. Gumansalangi bersiteri Ondaasa yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondawulaeng. Gumansalangi adalah Putera Mahkota dari kesultanan Cotabato,Mindanao Selatan akhir abad ke XII. Mereka diperintahkan untuk pergi ketimur oleh ayah Gumansalangi dengan maksud supaya mereka dapat mendirikan kerajaan baru. Berangkatlah mereka dengan menunggangi ular terbang sampai ke Pulau Marulung (pulau balut), kemudian keselatan menuju pulau Mandolokang (pulau Taghulandang) dipulau ini mereka tidak turun tetapi melanjutkan perjalanan ke pulau lain melewati pulau Siau dan turun di pulau Sangihe besar.

Dalam perjalanan, ikut pula saudara laki-laki dari Kondaasa bernama Pangeran Bawangunglare. Mereka lalu mendarat di pantai Saluhe. Dikemudian hari nama Saluhe berubah menjadi Saluhang dan kini menjadi Salurang.

Karena Gumansalangi adalah seorang bangsawan maka tempat tersebut dinamakan Saluhang yang berararti ”dieluk-elukan” dan dipelihara supaya dia bertumbuh dengan baik dan subur. Sejak kedatangan Gumansalangi dan Kondaasa di saluhe, selalu saja terdengar gemuruh dan terlihat kilat yang datang dari gunung. Gumansalangi lalu diberikan gelar Medellu yg berarti Guntur dan Kondaasa diberikan gelar Mengkila yang berarti cahaya kilat. Gumansalangi dan Kondaasa memiliki dua orang putra bernama Melintangnusa dan Melikunusa.

Gumansalangi lalu mendirikan kerajaan pada tahun 1300. Wilayah kerajaannya sampai ke Malurung (Pulau Balut / Philliphina).Saudara laki-laki Kondaasa melanjutkan perjalanan ke kepulauan Talaud tepatnya di pulau Kabaruan. Sampai saat ini tempat yang pertama kali diinjak oleh Pangeran Bawangunglare, dinamakan Pangeran.

Gumansalangi menyerahkan waris raja kepada anaknya yang sulung Melintangnusa pada tahun 1350. Anak bungsu Melikunusa mengembara ke Mongondow dan memperisteri Menongsangiang putri raja Mongondow. Melikunusa meninggal di Mongondow sedangkan Melintangnusa meninggal di Philliphina pada tahun 1400. Sesudah wafatnya Malintangnusa, kerajaan terbagi dua yaitu kerajaan Utara bernama Sahabe atau Lumage dan kerajaan Selatan bernama Manuwo atau Salurang. (dari beberapa catatan lepas pemerhati sejarah sangihe).

b. Versi kedua
Terbentuknya kerajaan pertama Sangihe berakar dari cerita tentang Gumansalangi. Humansandulage beristeri Tendensehiwu dan memperanakan Datung Dellu. Datung Dellu bersiteri Hiwungelo dan memperanakan Gumansalangi.

Gumansalangi, setelah mempersunting Ondaasa berlayar dari Molibagu melalui pulau Ruang,Tagulandang,Biaro,Siau terus ke Mindanao kemudian kepulau Sangihe, mereka tiba di Kauhis lalu mendaki Gunung Sahendarumang dan berdiam disana sampai terbentuknya kerajaan Sangihe pertama bernama Tampungang Lawo pada tahun 1425.( Iverdikson Tinungki dalam tabloid Zona utara )

c. Versi ketiga
Gumansalangi adalah anak seorang raja dari sebuah kerajan kecil diwilayah Philiphina bagian selatan. Ibunya meninggal ketika Gumansalangi masih kecil. Raja kemudian menikah lagi dengan perempuan lain dan melahirkan seorang puteri. Pada suatu pesta sang puteri atas perintah ibunya mempengaruhi Raja dengan sebuah permintaan dan berkata ”harta kekayaan tak penting bagiku yang kuinginkan adalah agar Ayah dapat membunuh Gumansalangi. Permintaan ini dilakukan agar tahta kerajaan tidak jatuh ketangan Gumansalangi.

Keinginan itu diketahui oleh Batahalawo dan Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan pengikut Gumansalangi, mereka lalu meberitahukan rencana itu pada Gumansalangi. Batahalawo kemudian melemparkan ikat kepala ( poporong ) kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa terbang Gumansalangi dan tiba di Rane dan tebing Mênanawo lalu mengitari bukit Bowong Panamba,Dumêga dan Areng kambing. Setibanya ditempat yang baru, setiap malam Gumansalangi hanya mendengarkan suara burung pungguk atau Tanalawo, arti lain dari Tanalawo adalah Pulau Besar.
Pada suatu senja digubuknya kedatangan seorang nenek yang memerlukan tempat berteduh. Malam berikutnya dia didatangi lagi seorang gadis cantik. Dua persitiwa membingungkan hati Gumansalangi. Disaat tenang terdengar suara yang berkata ambilah telur dipucuk pohon yang besar itu dan jangan sampai pecah. Ditebangnyalah pohon tersebut sampai mendapatkan sebutir telur. Telur itu kemudian pecah dalam perjalanan pulang, dari telur itu keluar seorang puteri cantik yang kemudian dikenal dengan nama Konda Wulaeng atau Sangiang Ondo Wasa ( puteri perintang malam ) putri khayangan. Mereka menikah lalu dinobatkan menjadi Kasili Mědělu dan Sangiang Měngkila yang berarti Putra Guntur dan Putri Kilat. Dinamai demikian karena pakaian sang putri berkilau seperti emas dan pertemuan mereka ditandai gemuruh dari langit. Cerita ini juga menjadi bagian dari lahirnya nama sangihe, dan menjadi inspirasi untuk pemotongan kue adat Tamo.
( Toponimi,Cerita rakyat, dan data sejarah dari kawasan perbatasan Nusa Utara, Sub Dinas kebudayaan kab.Kepl. sangihe, 2006 )

d. Versi ke empat
Tahun 1300, Pangeran Gumansalangi dibuang oleh orang tuanya dari Cotabato – Mindanao, jauh ketengah hutan. Gumansalangi dibuang karena tabiatnya buruk. Ditengah hutan Gumansalangi menyadari kesalahannya sambil menangis-nangis dan tangisannya terdengar sampai kekayangan. Dia lalu ditolong oleh raja dari kayangan dengan mengirim putri bungsunya bernama konda kebumi untuk menemui Gumansalangi dalam penyamaran sebagai seorang perempuan yang berpenyakit kulit.

Gumansalangi mengajak perempuan itu untuk tinggal bersamanya. Tapi beberapa hari kemudian sang putri menghilang karena kembali kekhayangan. Dua kali putri melakukan hal itu kepada Gumansalangi. Ketiga kalinya sang putri datang lagi dalam rupa putri cantik atas perintah ayahnya. Sejak saat itu mereka menjadi suami isteri.

Setelah menikah, atas perintah sang raja khayangan mereka disuruh keluar dari hutan tersebut. Kepergian mereka ditemani oleh kakak sang putri bernama Bawangung – Lare yang menjelmah menjadi seekor naga. Mereka berangkat ketimur dan sampai ke pulau Marulung (pulau balut sekarang) Ditempat ini mereka tidak turun karena tidak ada tanda seperti yang disampaikan oleh ayah mereka.Tanda-tanda tersebut adalah nampak kilat saling menyambar dan gemuruh. Perjalanan di lanjutkan melewati Pulau Mandalokang (Pulau taghulandang sekarang) mereka tidak menetap disana karena tidak ada tanda dan terus ke pulau Karangetang disana tidak juga terlihat tanda. Perjalanan dilanjutkan ke pulau Tampungang Lawo menuju ke gunung Sahendalumang. Di puncak gunung, mereka menemukan tanda berupa kilat dari atas dan gemuruh dari bawah. Berdasarkan titah sang ayah, menetaplah mereka di tempat itu. Gumansalangi diangkat menjadi raja dengan gelar Medellu yang berarti bagaikan gemuruh, sedangkan Putri Konda dijuluki Mengkila yang berarti putri kilat. Kerajaan itu bernama kerajaan Tampungan Lawo.

Tahta kerajaan kemudian diserahkan kepada anaknya yang sulung Melintangnusa tapi kemudian Melintangnusa pergi ke Mindanao dan menikah dengan putri Mindanao bernama Putri Hiabĕ anak dari raja tugis. Adiknya Melikunusa pergi ke daerah Bolaang Mongondow dan menikah dengan putri Mongondow bernama Menong Sangiang.

Tahta kerajaan dari Melintangnusa digantikan oleh anaknya Bulegalangi. ( sumber cerita dari Bapak H.Juda dalam buku “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “).

Melihat penyampaian syair umum dalam berbagai sasalamate tamo yang diturunkan sejak masa lalu, memberikan gambaran tentang usaha Gumansalangi memecahkan masalah dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Tentang telur pada pucuk tamo sudah dijadikan hiasan utama pada tamo masa lalu sbagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Jika pemaknaan filosofi Tamo adalah gambaran Gumansalangi dan konda wulaeng maka kemungkinan besar, dari beberapa versi cerita Gumansalangi diatas yang paling bersesuaian adalah versi ke tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *