Somahe Kai Kehage

Somahe Kai Kehage, semboyan yang tak asing bagi manusia yang berlatar belakang kebudayaan Sangihe. Peristiwa-peristiwa lampau yang dikenang oleh umat manusia tak lain adalah ingatan sejarah. Baik itu sejarah penindasan, pengkhianatan atau penggulingan kekuasaan. Oleh karena itu dengan menelisik Somahe Kai Kehage sebagai semboyan yang kehilangan makna, ada beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan, yaitu (1) Sejarah Budaya Sangihe, (2) Realitas Hari ini dan, (3) Masa depan kebudayaan Sangihe.

Sejarah kebudayaan Sangihe. Menelusuri sejarah kebudayaan Sangihe memang bukanlah suatu hal yang mudah, beberapa peneliti budaya memang mengiyakan hal tersebut. Persoalannya terletak pada pengaruh tradisi menulis yang belum dikenal oleh masyarakat Sangihe pada zaman sebelum penjajahan. Dari tuturan masyarakat bahwa konon tradisi menulis dimulai dari zaman ketika masuknya Zeding untuk mengabarkan Injil di kepulauan Sangihe. Kemudian disusul penjajahan Jepang dan Belanda. Pada waktu itu alat tulis yang digunakan dikenal dengan sebutan Batu Lei (semacam batu kapur). Dengan demikian dalam proses belajar mengajar, ketika jam pelajaran selesai maka tulisan tulisan yang ditulis oleh siswa akan dihapus kembali, Hal ini berlaku pada jam pelajaran berikutnya dan seterusnya. Sehingga kemungkinan besar proses pembelajaran seperti ini memperkuat daya ingat orang-orang yang pernah merasakan pendidikan dengan menggunakan alat tulis Batu Lei. Terkait dengan hal ini, maka jelaslah bahwa ada beberapa kendala mendasar dalam upaya menggali sejarah kebudayaan Sangihe, Ada yang mengatakan bahwa dulunya masyarakat Sangihe tidak mengenal tradisi tulis melainkan tradisi lisan. Tetapi hal ini sekiranya bukanlah sebuah persoalan mendasar. Persoalannya adalah seberapa besar kecintaan dan keinginan kita untuk menggali serta melestarikan nilai-nilai kebudayaan.

Dimulailah dengan legenda Gumansalagi dan Sangiang konda yang mendirikan kedatuan Tampungan Lawo di sebuah tempat yang bernama Saluhang (Salurang). Dalam penuturan masyarkat bahwa Gumansalangi adalah pangeran yang berasal dari Mindanao Selatan Filipina, yang mendirikan kedatuan pertama di Sangihe, Kehadiran mereka ditandai dengan bunyi Guntur dan kilat. Dengan peristiwa ini, kemudian mereka dikenal juga dengan sebutan Gumansalangi sebagai Medelu yang artinya Guntur dan Sangiang Konda dijuluki Mekila yang artinya kilat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *