Sangihe – padahal belum menggenapi dua bulan, kini penduduk pulau Kahakitang kecamatan Tatoareng kabupaten kepulauan Sangihe sudah menjerit dengan kekeringan (kurangnya air), apa hendak dikata, menurut pendapat sejumlah masyarakat, tiupan angin selalu menggeser awan mendung ketika bersarang di langit pulau Kahakitang, menyebabkan pulau ini jarang dirintih hujan. Sehingga, cerita masyarakat kepada sejumlah wartawan kamis (11/10/2018).

ketika datangnya hujan jangankan emas uangpun mereka biarkan dibandingkan membiarkan air hujan untuk mereka dapatkan. “Memang emas berharga, tetapi, bagi kami, air hujan lebih berharga”terang salah satu masyarakat bernama Willem Lombo.

“Memang harus diakui, lanjut Lombo, kalau Kahakitang itu jarang hujun, sebab, kami amati disetiap adanya awan gelap/mendung selalu meleset diakibatkan dihembuskan oleh angin. Kemungkinan besar diperkirakan jarang hujan, ada pada masalah letak geografis pulau Kahakitang. Tetapi apa boleh buat semua itu sudah diatur (diciptakan) Tuhan”beber Lomboh.

Pada cerita masyarakat, ketika pada saat seperti ini (kekeringan), masyarakat memang sangat menderita karena, pertama, jauhnya mengambil air minum. Kedua, disebabkan kurangnya air, mereka jarang mandi. Ketiga, mereka harus bangun sekitar jam 2 malam untuk mendapatkan air, bahkan, ada yang sempat tidak tidur hanya untuk mendapatkan segelon air.

“Padahal dulu, Ungkap Wilem kembali, tidak seperti sekarang ini, dulu meskipun panas berkempanjangan debit air tetap di atas normal, turun pun tidak seberapa. Tetapi, bila dinbandingkan sekarang ketika panas belum sebulan, debit air menurun drastis bahkan kondisinya mengkhawatirkan”ungkap wilem dengan nada resah.

“Kondisi seperti ini sebenarnya apa?, Tanya Wilem dengan pemikiran skeptis, apakah pengaruh dunia semakin tua, atau banyaknya pohon di pinggiran sungai di tebang (menebak-nebak), atau pengaruh memang pulaunya jarang dinaungi awan hitam/mendung atau hukuman Tuhan,”ucapnya sembari mengatakan bahwa, dibalik fenomena ini masih mengandung nilai misteri.

“Untung saja Tuhan maha adil, sembur warga lainya juga ikut berpendapat, jikalau tidak, sudah lama kami penduduk mati dengan kekeringan”cerita salah satu warga dengan sapaan akrab “ara Mariang”.

“Karena, lanjut ara Mariang, meskipun ditengah kesulitan air kami masih boleh bertahan hidup, kendatipun dengan keadaan seperti ini”. tutupnya.

Diketahui, ada proyek air bersih di kampung Kahakitang-Behongang yg di bangun beberapa tahun yg lalu menggunakan APBD kini tidak bermanfaat (mubasir) atau kata lain “Tabiar” jadi prasasti. Kemudian, proyek air bersih dikelolah tahun 2016 oleh dana desa (ADD)di kampung Kahakitang lindongan IV (empat) belum maksimal manfaatnya.(enal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *